Category Archives: Berita Mistis

Kecelakaan 3 Pejabat Subang Sarat Hawa Mistis

Kecelakaan yang sampai sekarang masih menjadi misteri itu terjadi pada akhir bulan Juli 2012. Kendaraan dinas jenis avanza yang dikendarai 3 Kepala Bagian di lingkungan Sekda Subang alami kecelakaan tunggal. Ada beberapa kejanggalan dari peristiwa kecelakaan tersebut yang diduga kuat disebabkan oleh adanya gangguan dari makhluk metafisik.

Kejadian itu terjadi di Kampung Cikuda, Desa Cijenkol, Kecamatan Cipeundeuy. Trihardjanto, korban ringan dalam peristiwa itu mengatakan sebelum kejadian, dia yang duduk di kursi depan asik ngobrol dengan Lukman (supir) dan Tamsudin yang duduk di kursi tengah. Namun beberapa saat sebelum kejadian, ketiganya mendadak diam tanpa percakapan sedikit pun.

Korban selamat Trihardjanto menjelaskan, kecepatan laju kendaraan yang disupiri Lukman dalam kondisi pelan atau 60 Km perjam. Namun, setelah kejadian itu posisi terakhir kendaraan berbalik 180 derajat atau posisi arah berlawanan. Hal itu sangat aneh, karena dalam kecepatan yang sangat rendah sebuah mobil tidak akan berbalik ke arah yang berlawanan.

Atas kecelakaan yang sangat misterius itu terdapat beberapa pendapat dari paranormal. Ada yang mengatakan bahwa kecelakaan itu memang sangat dipengaruhi oleh makhluk metafisik. Ada juga guru spiritual yang mengatakan bahwa kecelakaan itu diakibatkan dari kosongnya pikiran ketiga orang penumpang. Dengan begitu, hal ghaib apa pun tetap bisa masuk dan mengendalikan.

Penampakan 3 Pocong di Pernikahan

Warga Desa Klodran, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang pada awal September dihebohkan dengan terjadinya penampakan 3 pocong di pesta pernikahan salah satu warganya. Uniknya, tiga pocong itu muncul dipesta pernikahan yang digelar di siang hari.

Tiga pocong itu diyakini sebagian warga merupakan kiriman mantan pacar sang pengantin mempelai wanita yang tidak rela atau dendam karena ditinggal menikah sepihak. Sehingga sang mantan pacar ingin mengacaukan jalanya pesta pernikahan. Hampir serupa dengan teluh, santet dan hal-hal ghaib lain yang bertujuan mencelakakan.

Namun, upaya itu gagal karena sang kakek dan nenek mempelai wanita yang menjadi tuan rumah pesta pernikahan itu keduanya mempunyai kelebihan sebagai paranormal. Dalam istilahnya, sang nenek sebagai dukun bayi dan sang kakek sebagai dukun kejawen. Sebagai dukun kejawen, sudah pasti sang kakek mempunyai benda-benda pusaka sakti semacam, akik bertuah, keris sakti, mustika penangkal santet dan lain sebagainya. Praktis niat jahat itu bisa digagalkan oleh kakek dan nenek mempelai.

Kemunculan tiga pocong itu secara tidak sengaja terekam oleh salah satu keluarga mempelai wanita dan tersadar saat di malam hari diputarnya kembali. Dalam video berdurasi 34 detik itu, tiga pocong muncul di sebelah depan, tengah dan belakang tempat pesta pernikahan berlangsung. Adanya rekaman itu sempat menggegerkan keluarga pengantin, namun untuknya sudah ditenangkan oleh kakek pengantin layaknya guru spiritual sakti.

Penemuan Jenglot di Bantul

Jenglot termasuk satu dari banyak makhluk metafisik yang masih menjadi misteri sampai sekarang. Pada akhir Agustus hingga awal September 2012, terjadi berita misteri kejawen yang menghebohkan di Bantul, DIY. Jenglot ditemukan di Kali Progo oleh tiga warga saat menambang pasir.

Menurut mistik Jawa, jenglot berasal dari seorang yang beratus-ratus tahun bertapa. Tubuhnya menyusut dan mengecil serta memiliki tuah dan kesaktian yang sangat tinggi. Menurut kepercayaan warga, jenglot bisa diperdaya sang penemu untuk mempermudah berbagai kebutuhan hidup pemiliknya. Jenglot bisa difungsikan layaknya akik bertuah, pusaka sakti, keris, mustika dan benda-benda bertuah lainnya.

Bahkan, jenglot itu sempat dipamerkan di halaman salah satu rumah perangkat desa di Dusun Jaten, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajang, Bantul, DIY. Ratusan warga berduyun-duyun mendatangi lantaran penasaran ingin melihat secara langsung seperti apakah bentuk jenglot atau dalam ilmu kejawen dikenal dengan nama “bethoro karang”.

“Bethoro karang” ini merupakan pertapa yang sudah setara dengan seorang resi yang hampir satu level dan mendekati dengan makom seorang dewa. Banyak para paranormal menyebutnya dengan sebutan “Manusia Setengah Dewa”. Jenglot ini selain minum minyak wangi serta memakan bunga tujuh rupa, ia juga harus diberikan sajian darah dalam kurun waktu tertentu.

Dari penerawangan beberapa paranormal, jenglot yang ditemukan di Bantul adalah jenglot palsu. Pendapat paranormal lain mengatakan jenglot asli, namun sudah hilang energi / aura nya. Jika jenglot itu asli, maka matanya akan memancarkan cahaya merah kebiruan atau violet yang bisa mematikan manusia jika langsung melihatnya.

Selama beberapa hari, jenglot itu disimpan warga. Bahkan sempat mendatangkan keuntungan dari uang parkir warga yang datang berduyun-duyun ingin melihat jenglot dipamerkan itu. Namun, akhirnya jenglot itu kembali dilarung (dibuang ke kali) di Kali Progo karena setelah dilakukan musyawarah desa jenglot itu tidak mendatangkan keuntungan bagi warganya.

Misteri Kerajaan Ghaib di Hutan Blora

Kejadian aneh bin ajaib menimpa bus Pahala Kencana, pekan lalu. Bus berpenumpang 33 orang itu melaju dari Jakarta tujuan Madura. Kendaraan besar tersebut tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita tepatnya di Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Bukan hanya bus, satu kendaraan besar lainnya, truk beton Jaya Mix.

Awalnya bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura tepatnya di jalur Juwana-Rembang. Karena situasi macet, sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken, atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, ternyata justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa, mendadak mereka masuk ke hutan Gadogan di desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai perbukitan hutan jati.

Keanehan mulai terasa awak bus, saat mau mendahului truk beton yang berada di depannya. Kernet mencoba menahan sopir, agar truk naik dulu ke jalan menanjak, dan setelah truk naik, bus mencoba naik, namun ban belakang selip dan mundur, kemudian terdengar suara benturan.

Kernet pun turun dan mencoba mengecek. Setelah dicek, mesin seketika mati, saat sopir mengecek badan bus, seketika ia kaget, karena dia melihat pohon jati. Lalu ia memutari mobil berada di tengah-tengah hutan, dia mulai tersadar jam 02.30 WIB dini hari, lalu kernet mencoba membangunkan penumpang yang berjumlah 33 orang.

Berikut beberapa keanehan lainnya yang terjadi di kawasan hutan Jaken, Blora dalam 9 tahun terakhir:

2012
* Bus Pahala Kencana berpenumpang 33 orang dan tiga kru berangkat dari Jakarta menuju Madura, Rabu (20/6).
* Ketika tiba di wilayah Jaken, Kabupaten Pati, paling selatan, sopir cari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan di Juwana-Rembang. Setelah tanya seseorang, bus meluncur hingga tiba- tiba berada di sela-sela pohon jati, belantara Hutan Bonggan, Rembang, Kamis (21/6) dinihari.
* Tak hanya bus, dua truk tronton juga tersesat di lokasi yang sama, tanpa jejak ban masuk ke areal hutan.

2009
* Briptu Soewignyo, anggota Sentra Pelayanan Masyarakat Polsek Todanan, Blora yang pulang naik motor menuju Kunduran, Blora lampunya motor tiba-tiba copot saat melintas di kawasan Hutan Bonggan.
* Sambil memegangi lampu motor, Soewignyo tak sadar kalau tersesat di tengah makam. Selama semalam ia tak sampai rumah. Ia baru sadar paginya, ketika ditegur orang yang mengenal karena masih di tengah kawasan makam.

2008
* Warga Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Blora mengendarai motor malam hari dekat kawasan Hutan Bonggan.
* Warga Kedungbacin gempar karena sang pengendara hingga dua hari dua lama tak pulang. Setelah dicari ramai-ramai, si pengendara ditemukan di lokasi tak jauh dari tersesatnya bus dan dua truk tronton di Hutan Bonggan.

2003
*Grup seni ketoprak yang akan pentas di rumah warga Desa Kedungbacin, Todanan, Blora tak datang sesuai janji.
*Penduduk desa heboh, manakala menemukan para seniman tersesat di kawasan Hutan Bonggan. Mereka kebingungan berada di hutan, karena merasa telah pentas semalaman di rumah warga.

Gerbang Ghaib di Gunung Salak

Penyebab Sukhoi Superjet 100 menabrak tebing Gunung Salak dan jatuh ke jurang masih tanda tanya. Berbagai spekulasi mulai dari pilot Alexander Yablonstev tak mengetahui medan, hingga kabut tebal diduga menjadi penyebabnya. Namun dari sisi mistis, paranorma Ki Gendeng Pamungkas menyebut Sukhoi masuk ke pintu gerbang dunia lain di Gunung Salak.

Bagi masyarakat Sunda Wiwitan, lereng Gunung Salak merupakan tempat terakhir pendiri Kerajaan Padjajaran Prabu Siliwangi. Ki Gendeng Pamungkas yang pernah bergaul dengan warga setempat selama 5 tahun pun yakin dengan adanya dua dunia di Gunung Salak.

Menurutnya, Gunung Salak mempunyai daya mistis dan magis yang kuat ketimbang gunung-gunung lainnya yang ada di Indonesia. Dan hampir seluruh paranormal di Indonesia yang pernah melakukan meditasi di gunung setinggi 7.152 kaki ini menyatakan hal serupa.

“Waktu itu saya pernah mengunjungi Gunung Salak untuk melakukan spiritual bersama rombongan paranormal Pak Harto. Nah pas saya lewat jalan akan ketempat itu, 50 meter kita lewat jalan blank spot, kita sperti berada di dua alam. Ternyata jalan yang kita lewati itu di forbidden. Kita lalu meditasi sebentar, ternyata jalan setapak itu ada gerbang kerajaan, maka itu kita seperti tersesat,” tuturnya.

Dari pandangan spiritual, Ki Pamungkas melihat jika jatuhnya pesawat Sukhoi pada Rabu 9 Mei 2012 lantaran blank spot kabut. Apalagi jalur yang dilalui pesawat naas tersebut disebutnya akses Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan) melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu untuk menyembuhkan penyakit koreng yang dideritanya kala itu.

“Itu (Pesawat Sukhoi) udah masuk ruang hampa, ada ruang yang aneh. Area blank spot, area itu seperti ruang hampa. Pas waktu (kejadian jatuhnya peswat Sukhoi) itu juga ada semacam dari kayangan itu turun,” terang Ki Pamungkas.

Ketika terjadi kecelakaan, menurut mata batin Ki Pamungkas, di sekitar gunung Salak, tepatnya di Kawah Ratu, terjadi pertemuan lelembut (makhluk halis) se-Jawa Barat. Tak aneh jika kemistisan Gunung Salak disebut Ki Pamungkas sebagai tenggorokan sipiritual lain.

Selain itu, Ki Pamungkas menyebut Gunung Salak sebagai barometer negara mengetahui cuaca di Jakarta. Jika pukul 06.00-09.00 WIB Gunung Salak kabutnya tipis, maka Bogor dan Jakarta akan turun hujan ringan. Namun jika di waktu yang sama terlihat kabut tebal, maka kedua kota ini akan hujan deras.

“Musibah bisa juga dilihat dari Gunung Salak. Misalnya kalau di awan ada garis putih bekas asap motor, kalau ada seperti itu ada pengelola negara atau pejabat negara yang meninggal, kaya kemarin pas Wamen SDM sama Menkes meninggal itu di Gunung Salak ada seperti itu,” imbuhnya.

Selain itu, dari mata batin para spiritual, Gunung Salak bukan memiliki 3 puncak, melainkan 9, yang artinya ada 9 kekuatan spiritual. Sementara Gunung Gede 7 kekuatan spiritual, Gunung Pangrango 5 kekuatan spiritual.

“Gunung Salak itu lebih misteri dari gunung mana pun. Galunggung itu paru-parunya, kalau perutnya Gunung Merapi,” jelas dia.

Untuk proses evakuasi korban pun dikatakan dia tidak bisa sembarangan. Menurut Ki Pamungkas, ada syarat yang harus dipenuhi untuk menemukan titik-titk korban berada dan agar proses evakuasi berjalan lancar. Seperti halnya untuk saat ini, proses evakuasi korban akhirnya bisa dilakukan setelah Jumat pagi, setelah Tim SAR dan para sesepuh membuat semacam selamatan tumpengan nasi kuning agar bisa cepat dipertemukan titik lokasi korban.

Syaratnya bukan hanya itu, nasi kuning tersebut harus diantar oleh para sesepuh ke tempat lokasi jatuhnya pesawat. Tiga orang sesepuh bersama Tim SAR melakukan prosesi tersebut. Setelah melakukan pembacaan doa, semacam tahlilan, ketiga sesepuh tersebut mengatarkan ke lokasi jatuhnya pesawat.

Setelah dilakukan prosesi ritual tersebut, cuaca di sekitar Gunung Salak kembali cerah. Sejak Minggu 13 Mei pagi puncak dan lereng gunung hingga sore hari tidak tertutupi kabut. Proses evakuasi pun akhirnya berjalan lancar, korban mulai dievakuasi melalui jalur udara sejak Minggu.

Meski demikian, untuk proses menemukan korban, Ki Pamungkas melihat tak akan mulus. Menurutnya, tak seluruh penumpang akan berhasil ditemukan oleh Tim SAR. Dia memperkirakan hanya hanya sekitar 30 hingga 35 jenazah saja yang bisa diangkut.

“Ya kan tubuhnya pecah (tidak utuh) bisa saja dimakan hewan buas,” ujarnya.

Mesti menyebut Gunung Salak ini menyimpan sejuta kemistisan, namun Ki Pamungkas melihat karekternya spiritual positif. Dia pun menyarankan agar setiap pihak yang akan melakukan aktivitas di gunung ini untuk menghargai norma-norma dan tatakrama yang berlaku.

“Semua Gunung di Indonesia ada pengaruh mistis, hanya beda-beda karakternya aja. Kalau Gunung Salak karakternya itu positif. Gunung Salak tidak bisa digunakana untuk tempat bermain-main,” ujarnya.

Berbeda dengan sudut pandang spiritual Ki Pamungkas, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono punya hitung-hitungan secara ilmiah. Menurut pria yang akrab disapa Mbah Rono, setiap gunung pasti berkabut.

Dijelaskan dia, ada tiga jenis kabut yang bisa terjadi di gunung. Pertama kabut 03, yakni kabut yang menyelimuti seluruh tubuh gunung. Kedua, kabut 02 yang menyelimuti hanya setengah tubuh gunung, dan ketiga, kabut 01 itu kabut yang hanya menyelimuti puncak gunung saja.

“Yang jelas, kabut yang ada di pegunungan dapat menggangu jarak pandang,” cetus Mbah Rono.

Terkait kabut di pegunungan, Mbah Rono menyarankan pihak yang akan melakukan aktifitas di wilayah Gunung Salak memperhitungkan matang-matang.

“Misalnya kalau kita mau mendaki gunung dengan target lima jam sudah bisa sampai puncak, nah kita kita harus memperkirakan kapan kabut akan dan bisa turun. Soalnya kalau kabut turun akan menggangu perjalanan kita dan akan memakan waktu tempuh menjadi lama. Kabut itu pun akan menjadi kendala, soalnya jarak pandang semakin nggak kelihatan. Kita nggak tahu di depan kita ada bukit, dataran atau bahkan jurang,” bebernya.

Pada saat Sukhoi dengan nomor tubuh FN RA36801 menabrak tebing, Mbah Rono mendapat laporan dari anak buahnya saat itu Gunung Salak sedang berkabut.

“Begitu ada kabut dia nggak tahu. Cuaca di sana mudah berganti, bisa saja awan itu berpindah tempat lantaran didorong dengan angin dan membentur lereng. Bisa saja hujan turun di atas padahal di bawah belum tentu hujan,” ujarnya.

Meski begitu, Mbah Rono mengaku heran, mengapa pesawat sudah berteknologi canggih dan mendapat pemantauan dari ATC, namun seakan tidak mampu menghadapi kondisi Gunung Salak yang cuacanya seperti itu. Dia juga mengaku heran kenapa pilot meminta menurunkan ke 6.000 kaki, padahal tinggi Gunung itu 7.000 kaki. Artinya pesawat terbang rendah daripada ketinggian gunung itu sendiri.

“Pesawat itu kan canggih, sudah ada sistem elektronik memantau (cuaca seperti kabut), apalagikan dipantau,” ujarnya heran.

Mbah Rono juga tidak yakin jika pesawat Sukhoi jatuh lantaran tertarik medan magnet. Sebab, pada dasarnya setiap tanah dan bebatuan mempunyai magnet, namun skalanya kecil. Dan itu bukan hanya di Gunung Salak, tapi setiap tanah atau bebatuan punya daya magnet.

“Tidak cukup menarik benda logam. Apalagi benda itu sebesar pesawat yang bergerak cepat. Saya melihat, pesawat itu bergerak cepat di udara, jadi mana mungkin ditarik oleh magnet di bebatuan Gunung Salak. Karena magnet di tanah dan batu itu kecil dan tidak mungkin bisa menarik,” jelasnya.

Apa Anda percaya dengan mitos ataupun kemistisan di gunung?

Saya percara kepada Tuhan, tidak mungkin orang yang percaya Tuhan digoda setan. Saya sejak dulu memang hobi naik gunung. Sama juga, ada yang meminta saya jangan ini jangan itu. Tidak boleh ngomong sembarangan,” jawabnya.

Sementara itu dari sisi pengamat penerbangan Samudra Sukardi menduga pesawat jatuh karena pilot tak mengenal medan. Apalagi tidak ada pilot Indonesia yang mendampingi Alexander di kokpit. Padahal, sebagai pilot asing yang belum pernah terbang di atas wilayah Indonesia, pendampingan pilot lokal amat penting untuk mengenal medan.

“Kalau mau joy flight dia nggak tahu medan, taruh saja satu pilot Indonesia di tengah. Dia yang kasih tahu. Duduk saja gitu (pilot Indonesia) di tengah. Harus ada pilot yang mau terbang ke rute yang baru, ada namannya rute cek, dia harus dicek oleh inspektornya untuk rute-rute itu. Nah ini juga itu, cuma kan karena waktu dan sebenarnya dia juga sudah qualified (handal) nggak perlu itu, tapi harus ada observernya,” jelasnya.

Selain faktor pilot, Sukardi melihat sarana dan prasarana juga dapat mempengaruhui jalannya penerbangan. ATC, selaku pemantau pesawat, seharusnya dapat membimbing perjalanan Sukhoi naas itu. Sejauh ini dia menilai jika joy Flight tak menyalahi prosedur.

“Mestinya, kalau itu canggih, kalau SDMnya kerjanya benar, apa itu (ATC) lagi berfungsi benar atau tidak, itu mesti dicek dulu. Tidak ada salah prosedur, cuma mungkin pilotnya dengan ATC kurang komunikasi,” tegasnya.

Sementara dari sisi pesawat, Sukhoi Superjet 100 dianggapnya sudah mumpuni. Sistem di dalam Sukhoi komersil ini disebutnya sudah canggih, peralatan sudah komputerisasi.

“Sudah joy stick. Pilotnya sebenarnya itu playing computer operation, semua sudah komputer, digital semua. Cuma design-nya design orang Soviet, masih kaku, belum bulet, masih kaku gitu yah, kaya Kijang zaman dulu,” imbuh Samudra.