Penemuan Jenglot di Bantul

Jenglot termasuk satu dari banyak makhluk metafisik yang masih menjadi misteri sampai sekarang. Pada akhir Agustus hingga awal September 2012, terjadi berita misteri kejawen yang menghebohkan di Bantul, DIY. Jenglot ditemukan di Kali Progo oleh tiga warga saat menambang pasir.

Menurut mistik Jawa, jenglot berasal dari seorang yang beratus-ratus tahun bertapa. Tubuhnya menyusut dan mengecil serta memiliki tuah dan kesaktian yang sangat tinggi. Menurut kepercayaan warga, jenglot bisa diperdaya sang penemu untuk mempermudah berbagai kebutuhan hidup pemiliknya. Jenglot bisa difungsikan layaknya akik bertuah, pusaka sakti, keris, mustika dan benda-benda bertuah lainnya.

Bahkan, jenglot itu sempat dipamerkan di halaman salah satu rumah perangkat desa di Dusun Jaten, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajang, Bantul, DIY. Ratusan warga berduyun-duyun mendatangi lantaran penasaran ingin melihat secara langsung seperti apakah bentuk jenglot atau dalam ilmu kejawen dikenal dengan nama “bethoro karang”.

“Bethoro karang” ini merupakan pertapa yang sudah setara dengan seorang resi yang hampir satu level dan mendekati dengan makom seorang dewa. Banyak para paranormal menyebutnya dengan sebutan “Manusia Setengah Dewa”. Jenglot ini selain minum minyak wangi serta memakan bunga tujuh rupa, ia juga harus diberikan sajian darah dalam kurun waktu tertentu.

Dari penerawangan beberapa paranormal, jenglot yang ditemukan di Bantul adalah jenglot palsu. Pendapat paranormal lain mengatakan jenglot asli, namun sudah hilang energi / aura nya. Jika jenglot itu asli, maka matanya akan memancarkan cahaya merah kebiruan atau violet yang bisa mematikan manusia jika langsung melihatnya.

Selama beberapa hari, jenglot itu disimpan warga. Bahkan sempat mendatangkan keuntungan dari uang parkir warga yang datang berduyun-duyun ingin melihat jenglot dipamerkan itu. Namun, akhirnya jenglot itu kembali dilarung (dibuang ke kali) di Kali Progo karena setelah dilakukan musyawarah desa jenglot itu tidak mendatangkan keuntungan bagi warganya.