Secuil Sisi Mistik Bung Karno

Berbagai kisah hidup sosok Bung Karno memang tidak bisa dipisahkan dengan dunia mistik. Sebagai seorang tokoh besar, berbagai kisah mistik menyelimuti kisah-kisah perjalanan hidup beliau. Nama Presiden RI pertama ini tersohor ke seantero jagad. Pemikiran-pemikiran, keberanian dan wibawanya sangat diakui oleh dunia internasional. Sampai sekarang, sosok Soekarno masih menyimpan banyak sekali misteri yang belum terpecahkan.

Sebagai seorang pemikir handal yang mempercayai suatu kehidupan alam ghaib, beliau kerap mengasingkan diri dalam fenomena yang tak layak pada umumnya. Beliau kerap melakukan laku tirakat dan bertapa dari satu tempat ke tempat lain yang memiliki aura mistis besar. Dari situlah beliau mendapat wejangan dan benda-benda pusaka yang diberikan oleh makhluk-makhluk ghaib.

Kisah ini terjadi pada jum’at legi, bulan maulud 1937H. Berawal dari sebuah mimpi yang dialaminya. Di suatu malam, beliau didatangi seekor naga besar yang ingin ikut serta mendampingi hidupnya. Naga itu mengenalkan dirinya bernama, Sanca Manik Kali Penyu, yang tinggal di dalam bukit Gorong, kepunyaan dari Ibu Ratu Nyi Blorong, yang legendaris.

Dengan kejelasan mimpinya, Bung Karno, langsung menemui KH. Rifai, yang kala itu sangat masyhur namanya. Lalu sang kyai memberinya berupa amalan atau sejenis  doa Basmalah, yang konon bisa mewujudkan benda gaib menjadi nyata. Melalui proses laku tirakat dan tapa brata, saat itu Bung Karno ditemui sosok wanita cantik yang tak lain adalah Nyi Blorong sendiri.

“Andika!! Derajatmu wes tibo neng arep, siap nampi mahkota loro, lan iki mung ibu iso ngai bibit kejembaran soko nagara derajat, kang manfaati soko derajatmu ugo wibowo lan rejekimu serto asih penanggihan” terang Nyi Blorong.

Yang arti dari ucapan tadi kurang lebihnya; “Anakku!! Sebentar lagi kamu akan menjadi manusia yang mempunyai dua derajat sekaligus (Pemimpin umat manusia dan bangsa gaib yang disebut sebagai istilah/ Rijalul gaib). Saya hanya bisa memberikan sebuah mustika yang manfaatnya sebagai, ketenangan hatimu, keluhuran derajat, wibawa, kerejekian serta pengasihan yang akan membawamu dipermudah dalam segala tujuan”

mustika yang dimaksud tak lain berupa paku bumi, jelmaan dari seekor naga sakti, Sanca Manik, yang didalam mulutnya terdapat satu buah batu merah delima bulat berwarna merah putih crystal.(Bisa dilihat dalam gambar atas) symbol dari bendera merah putih/ negara Indonesia.

Sebagai sosok spesial yang dianugerahi kemampuan khusus dalam dunia supranatural, (7) bulan, dari kedapatan mustika Sanca Manik, beliau pun bermimpi kembali. Yang mana didalam mimpinya sosok Kanjeng Sunan Kalijaga beserta ibu Ratu Kidul Pajajaran (suami istri) menyuruh Bung Karno, datang ke bukit Tinggi Pelabuhan Ratu, Sukabumi- Jawa Barat.

“Datanglah Nak ke tempatku!!! Kusiapkan jodoh dari pemberian Putranda (Nyi Blorong) yang kini telah kau terima, tak pantas melati tanpa kembang kenanga, lelaki tanpa adanya wanita.” Tentunya sebagai seorang yang berpengalaman dalam pengolahan batiniah, Bung Karno sangat paham  akan makna sebuah mimpi. Dalam hal ini beliau meyakini bahwa mimpi yang dialaminya adalah bagian dari hal yang perlu ditindak lanjuti.

Dengan meminta bantuan kepada, Kartolo Harjo, asal dari kota Pekalongan, yang kala itu dianggap orang paling kaya, mereka pun langsung menuju lokasi yang dimaksud. Kisah perjalanan menuju Pelabuhan Ratu, ini cukup memakan waktu panjang, pasalnya disetiap daerah yang dilaluinya Bung Karno, selalu diberhentikan oleh sesosok yang tidak mereka kenal.

Mereka berebut memberikan benda bertuah pada sosok kharismatik berupa pusaka maupun bentuk mustika. Hal semacam ini sudah sewajarnya dalam dunia keparanormalan sejak zaman dahulu kala, dimana ada sosok yang bakal menjadi cikal seorang pemimpin, maka seluruh bangsa gaibiah akan dengan antusiasnya berebut memamerkan dirinya untuk bisa sedekat  mungkin dengannya.

Saat perjalanan yang diawali dari Kota Klaten Jawa Tengah itu Bung Karno menemui berbagai hal aneh. Ketika melewati hutan di daerah Semarang, beliau diminta turun oleh sosok hitam berambut jambul, yang mengaku bernama, Setopati asal dari bangsa jin, dan memberikan pusaka berupa cundrik kecil, berpamor Madura dengan besi warna hitam legam. Manfaatnya, sebagai wasilah bisa menghilang.

Ketika melintas hutan Tomo Sumedang, beliau pun dihadang oleh seorang nenek renta yang mengharuskannya turun dari mobil. Mulanya Bung Karno enggan turun, namun saat melaluinya untuk terus melajukan mobil yang dikendarai, ternyata mobil tersebut tidak bisa jalan sama sekali. Di tempat itu beliau diberikan satu buah mustika Yaman Ampal, sebagai wasilah kebal segala senjata tajam oleh nenek renta itu. Di setiap kota yang di lalui, beliau mendapatkan benda bertuah pemberian makhluk ghaib.

Sesampainya ditempat yang dituju, Bung Karno dan temanya mulai mempersiapkan ubo rampe berupa sesajen sepati, sebagai satu penghormatan kepada seluruh makhluk ghaib yang ada ditempat itu. Seterusnya, Bung Karno mulai mengadakan ritual khususiah. Semua ini beliau lakukan agar jangan sampai menggangu satu sama lain dalam aktifitas menuju suatu penghormatan kepada bangsa gaib yang mengundangnya.

Dua malam beliau melakukan ritual tapa brata dengan cara sikep kejawen yang biasa dilakukannya saat menghadapi penghormatan kepada bangsa gaib, lepas pukul 24.00, seorang bersorban dan wanita cantik yang tiada tara datang menghampirinya, mereka berdua tak lain adalah Sunan kalijaga dan Nyimas Nawang wulan Sari Pajajaran, yang sengaja mengundangnya.

“Anakku!!! Dalam menghadapi peranmu yang sebentar lagi dimulai, Ibu hanya bisa memberikan sementara sejodoh mustika yang diambil dari dasar laut Nirsarimayu (dasar laut pantai selatan sebelah timur kaputrennya) ini mustika jadohnya dari yang sudah kamu pegang saat ini, gunakanlah mustika ini sebagai wasilah kerejekian guna membantu orang yang tidak mampu, sebab inti dari kekuatan yang terkandung didalamnya, bisa memudahkan segala urusan duniawiah sesulit apapun” Lalu setelah berucap demikian, kedua sang tokoh pun langsung menghilang dari pandangannya.

Dari kejadian itu Bung Karno, langsung mengambil sikap diam dalam perjalanan pulang sambil berpuasa hingga sampai rumah/tempat kembali semula. Cara seperti ini disebut sebagai, Ngawulo hamba/mentaati peraturan gaib supaya apa yang sudah dimilikinya bisa bermanfaat lahir dan batin.

Kisah di atas hanyalah sebagian kecil dari laku-laku spiritual dan perjalanan Bung Karno dalam dunia mistik. Sampai sekarang sosok Soekarno masih sangat terkenal dan fenomenal di kalangan masyarakat. Banyak sekali benda-benda pusaka peninggalan beliau. Kabarnya, beliau juga meninggalkan harta karun sangat berlimpah yang disimpan di dalam dunia ghaib. Sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang sengaja mencari atau meneliti peninggalan-peninggalan presiden pertama RI itu.